Penjiplakan Makin Merebak
Penjiplakan yang semestinya dihindari di dunia akademik justru semakin merebak di sejumlah perguruan tinggi. Pelakunya bukan hanya mahasiswa, tetapi juga dosen, guru besar, dan calon guru besar dengan beragam modus.
Di Yogyakarta, misalnya, dua calon guru besar perguruan tinggi swasta dicurigai mengajukan karya ilmiah hasil penjiplakan dalam berkas pengajuan gelar guru besarnya. Karena kasus ini, pengajuan gelar guru besar mereka ditangguhkan hingga proses klarifikasi selesai.
Penangguhan dilakukan Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah V DI Yogyakarta dengan waktu yang belum bisa dipastikan.
”Belum tahu kapan klarifikasi bisa selesai tetapi pengajuan gelar guru besar mereka tidak akan diteruskan sampai ada bukti kuat mereka tidak melakukan plagiat,” kata Koordinator Kopertis Wilayah V DI Yogyakarta Budi Santosa Wignyosukarto di Yogyakarta, Rabu (17/2).
Untuk melindungi hak praduga tak bersalah kedua calon guru besar itu, Budi belum bersedia menyebut identitas ataupun asal perguruan tinggi swasta keduanya. Dua dosen yang tengah mengajukan gelar guru besar tersebut hanya disebutkan berasal dari bidang ilmu pengetahuan alam (IPA) dan ilmu sosial. Calon guru besar dari IPA dicurigai melakukan plagiat untuk dua karya ilmiah yang diajukannya.
Kecurigaan muncul saat pemeriksaan berkas pengajuan gelar guru besar di tingkat universitas. Salah satu karya ilmiah yang diajukan pernah menjadi bahan diskusi dalam seminar internasional di Yogyakarta.
Satu karya ilmiah lainnya diduga merupakan hasil skripsi mahasiswa S-1 sebuah perguruan tinggi negeri terkenal di Yogyakarta.
”Kebetulan sekali, reviewer karya ilmiah calon guru besar itu adalah pembimbing mahasiswa yang telah lulus. Kalau tidak, mungkin tidak akan diketahui,” kata Budi.
Saat ini, proses klarifikasi karya ilmiah yang diajukan masih dilakukan di tingkat universitas. Sementara itu, calon guru besar dari ilmu sosial dicurigai melakukan penjiplakan dari sebuah karya ilmiah luar negeri. Dugaan penjiplakan ini timbul saat berkas pengajuan gelar guru besar diperiksa di tingkat Kopertis. Saat pemeriksaan di tingkat fakultas dan universitas karya ilmiah itu lolos.
Menurut Budi, sejumlah karya penelitian dosen juga diketahui merupakan hasil penjiplakan. ”Pernah ditemukan satu dosen yang mengajukan tiga karya ilmiah dalam setahun. Setelah diperiksa, ternyata hasil penjiplakan,” ujar Budi.
Karya ilmiah merupakan salah satu pokok terbesar dalam pengurusan kenaikan jabatan dosen. Dengan adanya tunjangan profesi dosen sebesar satu kali gaji pokok dan tunjangan guru besar sebesar dua kali gaji pokok, jumlah pengajuan jabatan juga meningkat.
Menyuruh mahasiswa
Ketua Dewan Pendidikan Provinsi DI Yogyakarta Wuryadi mengatakan, meluasnya penjiplakan karya ilmiah menunjukkan meningkatnya budaya instan dalam sistem pendidikan. Hal ini didukung lemahnya pengawasan dan pemeriksaan di tingkat universitas.
Secara terpisah Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta A Koesmargono mengatakan, penjiplakan dan pembuatan karya ilmiah ini telah berlangsung lama. Pihaknya telah meningkatkan kewaspadaan, salah satunya dengan memperketat pengkajian karya ilmiah, baik karya dosen maupun mahasiswa.
Banyak kecurangan pembuatan karya ilmiah oleh dosen yang dilakukan dengan memanfaatkan mahasiswanya untuk melakukan penelitian. Biasanya dosen menyuruh satu atau lebih mahasiswa membuat penelitian yang kemudian diklaim sebagai karya dosen tersebut.
Menurut Koesmargono, dalam hal ini mahasiswa berada di pihak yang lemah sehingga mudah dimanfaatkan. ”Praktik-praktik seperti ini sulit diawasi,” katanya.
Di tingkat mahasiswa, maraknya bisnis pembuatan skripsi dan tesis di Yogyakarta dapat dilihat dari banyaknya jasa pembuatan yang berkedok bimbingan dan pengolahan data. Setidaknya terdapat delapan penyedia jasa yang rutin memasang iklan dengan tarif mulai Rp 2,5 juta hingga Rp 6 juta. Biaya ini meliputi pemilihan topik, penelitian, dan pembuatan laporan.
Terima pengunduran diri
Dari Bandung, Pengurus Yayasan Universitas Parahyangan Bandung menerima pengunduran diri guru besar Jurusan Hubungan Internasional, AABP. Atas perbuatan penjiplakan yang telah dilakukan AABP, Universitas Parahyangan menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf kepada semua pihak.
”Mulai Selasa (16/2) malam, antara Unpar dan AABP sudah tidak memiliki hubungan kerja. Hasil ini diambil melalui keputusan bersama Pengurus Yayasan Unpar setelah mempertimbangkan banyak hal, seperti rekomendasi senat universitas, dampak buruk penjiplakan, dan dokumen penting terkait hal itu,” kata Rektor Unpar Cecilia Law.
Ke depan, Cecilia mengatakan, banyak pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini oleh dunia pendidikan, khususnya Unpar. Unpar selanjutnya akan mawas diri seraya mewujudkan dan meningkatkan beberapa hal demi kemajuan semua sivitas akademika.
Ahli evaluasi pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, S Hamid Hasan, mengatakan, merebaknya kebiasaan penjiplakan di dunia pendidikan adalah akibat dari terpinggirkannya pendidikan karakter dan budaya dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan Indonesia lebih menekankan prestasi seseorang dari hasil-hasil tes semata, sedangkan pembentukan karakter justru terabaikan.
”Pendidikan itu tidak cukup menekankan kognitif. Yang utama saat ini bagaimana selama proses pembelajaran sejak di sekolah juga terbentuk karakter dan nilai-nilai yang penting untuk menghadapi kehidupan,” ujar Hamid. (IRE/CHE/ELN)
Sumber; Kompas 18 Februari 2010
Selengkapnya ..
Showing posts with label News Light. Show all posts
Showing posts with label News Light. Show all posts
Wednesday, February 10, 2010
Guru Besar Diduga Menjiplak

Guru besar Jurusan Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, AABP, dituding menjiplak karya Carl Ungerer, seorang penulis asal Australia. AABP, yang kolumnis Harian Kompas dan The Jakarta Post ini, setidaknya melakukan enam kali plagiarisme, mengutip tanpa menyebutkan referensi.
Konsekuensinya, guru besar Hubungan Internasional berumur 43 tahun ini harus siap diberhentikan tidak hormat dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Tak hanya itu, gelar profesornya pun kemungkinan dicabut. Dalam jumpa pers, Selasa (9/2), Rektor Unpar Cecilia Lauw mengatakan, ia dan segenap sivitas akademika di Unpar sangat terpukul dan kecewa terkait mencuatnya kasus ini.
”Ini adalah perbuatan yang tidak dapat ditoleransi meskipun itu dilakukan secara tidak sengaja,” katanya.
Kabar tentang plagiarisme yang dilakukan guru besar ini terkuak dari keterangan (disclaimer) editorial kolom opini The Jakarta Post yang dirilis 4 Februari 2010.
Dalam keterangan ini disebutkan, artikel ”RI As A New Middle Power”, dimuat 12 November 2009, ternyata mirip dengan karya Ungerer yang berjudul ”The Middle Power, Concept in Australia Foreign Policy”. Karya Ungerer ini telah lebih dulu dimuat di Australian Journal of Politics and History, volume 53.
Kabar ini sibuk dibahas di sejumlah blog, salah satunya Kompasiana. Hal ini dibenarkan Ketua Jurusan HI Unpar Purwadi Hermawan. ”Setidaknya ada empat tulisan. Tetapi, yang paling dominan adalah tulisan terakhir di Jakarta Post (”The Middle Power”),” ujarnya.
Mencuatnya kasus ini menimbulkan banyak keprihatinan beragam kalangan. Wakil Dekan Fisip Unpar Pius Sugeng Prasetyo mengatakan, apa yang dilakukan guru besar itu bertentangan dengan upaya untuk menanamkan aspek kejujuran akademis.
Menyinggung soal sanksi yang akan diberikan, Cecilia Lauw menegaskan, Unpar telah memproses usulan pemberhentian dengan tidak hormat. Di sisi lain, guru besar ini pun sudah mengundurkan diri terhitung sejak Senin, 8 Februari 2010.
Sementara itu, hingga kemarin, AABP belum bisa dikonfirmasi mengenai hal ini. Ia tidak hadir mengajar di kampus sementara telepon selulernya juga tidak aktif. Menurut salah seorang mahasiswanya, Theresia (20), dalam kuliah beberapa waktu lalu, ia sempat meminta maaf. Melalui situs jejaring sosial Facebook, ia menyampaikan permohonan maaf. Bunyinya, ”I do apologize for what i have done, unintentionally. Thank for all the concerns”. (jon)
Sumber: Kompas.com Rabu 10 Februari 2010
Selengkapnya ..
Tuesday, January 5, 2010
Kronologis gus Dur Dirawat di RSCM
Okezone
Direktur Utama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Akmal Taher menjelaskan kronologi KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dirawat di rumah sakit milik pemerintah tersebut.
Menurut dia, pada 25 Desember 2009 sekira pukul 08.00 WIB, mendapat berita dari Direktur Utama RS Dr Sutomo, Gus Dur akan dibawa ke RSCM. "Gus Dur akan dibawa ke Cipto karena keadaannya lemah dan perlu cuci darah," ujarnya di RSCM, Jakarta, Selasa (5/1/2010).
Kata dia, saat itu Gus Dur mengalami kekurangan cairan dan kadar gula rendah.
Pukul 12.45 WIB, Gus Dur tiba di RSCM kemudian ke ruang cuci darah.
Pukul 13.30 WIB, dilakukan pencucian darah dan Gus Dur menerima tamu antara lain Menkes dan Menkum HAM.
Pukul 18.00 WIB, cuci darah selesai dan Gus Dur dibawa ke kamar 116 untuk observasi dan kemungkinan ekstraksi gigi karena sebelumnya ada abses atau nanah di geraham.
"Tanggal 26-27 Desember, kondisi stabil dan dipersiapkan ekstraksi gigi dan dipersiapkan anesthesia lokal, tapi dilakukan di kamar operasi," ujar Akmal.
Tanggal 28 Desember sekira pukul 11.00 WIB, dilakukan ekstraksi gigi dengan anesthesia lokal dan sempat terjadi prekosi denyut jantung yang lambat tapi dapat diatasi. Pukul 11.30 WIB, Gus Dur dibawa ke ICU tapi kondisnya masih sadar.
Tanggal 29 Desember pukul 10.00 WIB, dilakukan cuci darah kembali dan selesai pada pukul 13.30 WIB, kemudian dirawat ke ruangan tapi tidak di ICU.
Tanggal 30 Desember, keadaan Gus Dur terlihat baik-baik saja.
Pada pukul 11.30 WIB, Gus Dur mengeluhkan sakit hebat pada bokong kanan dan menjalar ke tungkai dan kaki kanan. "Tim dokter melakukan pemeriksaan dan diduga ada sumbatan di tungkai kaki kiri dan kanan," kata Akmal.
Pukul 12.30 WIB, tim melakukan pemeriksaan USG dan ditemukan sumbatan total di panggul kanan dan sebagian di panggul kiri.
"Waktu itu Gus Dur mengalami sesak nafas. Kami melakukan pertolongan dan dipindahkan ke ICU jantung terpadu, dan keluarga sudah mengetahui," katanya.
Pada pukul 14.22 WIB, tim dokter melaporkan ke Menkes dan dilakukan tindakan medis sebaik-baiknya serta dilaporkan kondisi pasien dari waktu ke waktu.
Pada pukul 14.40-15.08 WIB, tim dokter melakukan prosedur tindakan ortografi dan ditemukan ada sumbatan total di pembuluh darah besar (aorta) sampai pada percabangan alteri panggul kiri dan kanan.
Pukul 16.30 WIB, kondisi dan tindakan dilaporkan ke Menkes. Pukul 17.45 WIB, dalam prosedur pengambilan darah, kondisi pasien disertai dengan penurunan kesadaran. "Kami memberikan alat bantu nafas dan disertai tindakan memperbaiki pasien," imbuh Akmal.
Pukul 17.55 WIB, keadaan pasien dilaporkan ke dokter Kepresidenan dan tim dokter RSCM dan diinformasikan Presiden SBY akan datang ke RSCM.
Pukul 18,15 WIB, Gus Dur dalam kondisi kritis dan memburuk sehingga dilakukan tindakan resistasi.
Pukul 18.25 WIB, Presiden SBY tiba dan menemui keluarga kira-kira 20 meter dari ruang tindakan tapi tidak masuk, didampingi istri Gus Dur dan menantunya.
Menurut dia, Presiden berdua di tempat masuk tapi tidak ke ruangan. Kemudian pada pukul 18.30 WIB, Presiden SBY menjauhi ruang tindakan dan berbicara dengan tim dokter serta Menkes. "Resistasi tetap dilanjutkan dan tim bedah vaskuler, kardiologi staf ahli jantung," ujarnya.
Pukul 18.45 WIB, Pasien dinyatakan meninggal dan disampaikai langsung ke warga. Presiden menyampaikan belasungkawa. Pukul 18.55 WIB, Presiden meninggalkan RSCM.(ram)
Selengkapnya ..
Direktur Utama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Akmal Taher menjelaskan kronologi KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dirawat di rumah sakit milik pemerintah tersebut.
Menurut dia, pada 25 Desember 2009 sekira pukul 08.00 WIB, mendapat berita dari Direktur Utama RS Dr Sutomo, Gus Dur akan dibawa ke RSCM. "Gus Dur akan dibawa ke Cipto karena keadaannya lemah dan perlu cuci darah," ujarnya di RSCM, Jakarta, Selasa (5/1/2010).
Kata dia, saat itu Gus Dur mengalami kekurangan cairan dan kadar gula rendah.
Pukul 12.45 WIB, Gus Dur tiba di RSCM kemudian ke ruang cuci darah.
Pukul 13.30 WIB, dilakukan pencucian darah dan Gus Dur menerima tamu antara lain Menkes dan Menkum HAM.
Pukul 18.00 WIB, cuci darah selesai dan Gus Dur dibawa ke kamar 116 untuk observasi dan kemungkinan ekstraksi gigi karena sebelumnya ada abses atau nanah di geraham.
"Tanggal 26-27 Desember, kondisi stabil dan dipersiapkan ekstraksi gigi dan dipersiapkan anesthesia lokal, tapi dilakukan di kamar operasi," ujar Akmal.
Tanggal 28 Desember sekira pukul 11.00 WIB, dilakukan ekstraksi gigi dengan anesthesia lokal dan sempat terjadi prekosi denyut jantung yang lambat tapi dapat diatasi. Pukul 11.30 WIB, Gus Dur dibawa ke ICU tapi kondisnya masih sadar.
Tanggal 29 Desember pukul 10.00 WIB, dilakukan cuci darah kembali dan selesai pada pukul 13.30 WIB, kemudian dirawat ke ruangan tapi tidak di ICU.
Tanggal 30 Desember, keadaan Gus Dur terlihat baik-baik saja.
Pada pukul 11.30 WIB, Gus Dur mengeluhkan sakit hebat pada bokong kanan dan menjalar ke tungkai dan kaki kanan. "Tim dokter melakukan pemeriksaan dan diduga ada sumbatan di tungkai kaki kiri dan kanan," kata Akmal.
Pukul 12.30 WIB, tim melakukan pemeriksaan USG dan ditemukan sumbatan total di panggul kanan dan sebagian di panggul kiri.
"Waktu itu Gus Dur mengalami sesak nafas. Kami melakukan pertolongan dan dipindahkan ke ICU jantung terpadu, dan keluarga sudah mengetahui," katanya.
Pada pukul 14.22 WIB, tim dokter melaporkan ke Menkes dan dilakukan tindakan medis sebaik-baiknya serta dilaporkan kondisi pasien dari waktu ke waktu.
Pada pukul 14.40-15.08 WIB, tim dokter melakukan prosedur tindakan ortografi dan ditemukan ada sumbatan total di pembuluh darah besar (aorta) sampai pada percabangan alteri panggul kiri dan kanan.
Pukul 16.30 WIB, kondisi dan tindakan dilaporkan ke Menkes. Pukul 17.45 WIB, dalam prosedur pengambilan darah, kondisi pasien disertai dengan penurunan kesadaran. "Kami memberikan alat bantu nafas dan disertai tindakan memperbaiki pasien," imbuh Akmal.
Pukul 17.55 WIB, keadaan pasien dilaporkan ke dokter Kepresidenan dan tim dokter RSCM dan diinformasikan Presiden SBY akan datang ke RSCM.
Pukul 18,15 WIB, Gus Dur dalam kondisi kritis dan memburuk sehingga dilakukan tindakan resistasi.
Pukul 18.25 WIB, Presiden SBY tiba dan menemui keluarga kira-kira 20 meter dari ruang tindakan tapi tidak masuk, didampingi istri Gus Dur dan menantunya.
Menurut dia, Presiden berdua di tempat masuk tapi tidak ke ruangan. Kemudian pada pukul 18.30 WIB, Presiden SBY menjauhi ruang tindakan dan berbicara dengan tim dokter serta Menkes. "Resistasi tetap dilanjutkan dan tim bedah vaskuler, kardiologi staf ahli jantung," ujarnya.
Pukul 18.45 WIB, Pasien dinyatakan meninggal dan disampaikai langsung ke warga. Presiden menyampaikan belasungkawa. Pukul 18.55 WIB, Presiden meninggalkan RSCM.(ram)
Selengkapnya ..
Monday, January 4, 2010
Pesan Singkat Fitnah Presiden SBY

Empat hari sudah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dikebumikan. Kini, setelah pemakaman Gus Dur beredar Short Message Servis (SMS) dikalangan masyarakat yang bernada fitnah kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam SMS tersebut berisi pesan bahwa Presiden SBY Membunuh Gus Dur dengan cara mencabut selang oksigennya. Buat Rakyat Indonesia ada baiknya kabar FITNAH tersebut tidak usah direspon. Sebab akan memperkeruh situasi di Tanah Air. Kewajiban kita yang paling penting saat ini adalah mendoakan agar Gus Dur tenang di alam kubur. Selengkapnya ..
Pemberian Gelar Pahlawan Hak Prerogatif Presiden
Pengangkatan almarhum KH Abdurahman Wahid ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sebagaimana banyak diusulkan perlu dilakukan dengan sistematis. Penentuan pahlawan tergantung dari strategi pemerintah tentang nilai yang ingin dikembangkan dan disosialisasikan.
"Itu Hak Prerogatif Presiden. Jika pemerintah ingin mengembangkan nilai demokrasi dan hak asasi manusia, maka Gus Dur harus diangkat." ujar Asvi Warman Adam, sejarahwan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Minggu (3/1).
Meskipun Gus Dur banyak menuai kontroversi akan tetapi selama tidak terdapat catatan kriminal minimal lima tahun, hal tersebut adalah wajar. "Pahlawan kan tidak ada yang sempurna, setiap manusia pasti ada cacatnya," ujarnya.
Asvi mengatakan, ada pun syarat seorang tokoh menjadi pahlawan nasional, yakni persyaratan umum dan khusus. Persyaratan umum antara lain warga negara Indonesia, tidak mempunyai catatan kriminal minimal lima tahun. Sedangkan persyararatan khusus mengikat antara lain berjasa terhadap bangsa dan negara.
Pengangkatan pun harus dilakukan secara sistematis dari tingkat kabupaten hingga presiden. Hal pertama yang harus dilakukan adalah pengajuan oleh bupati biasanya dari tempat tokoh tersebut lahir, lalu diberikan kepada Gubernur propinsi setempat lalu diajukan ke Departemen Sosial, lalu kepada Presiden dan melalui perundingan diputuskan oleh Presiden.
Namun ada kendala dalam pemberian gelar pahlawan dalam peraturan perundang undangan sekarang. Menurut Undang Undang 20/2009, Dewan Gelar Tanda Jasa dan Kehormatan harus dibentuk paling lambat enam bulan setelah Undang Undang tersebut disahkan yaitu pada tanggal 18 Desember.
Untuk mengatasi hal ini, ada proses yang harus dilaksanakan beriringan. Proses pengajuan dari bupati hingga kepada presiden dan proses pembentukan Dewan Gelar Tanda Kehormatan dan Jasa.
Lebih lanjut Asvi menganjurkan agar pemerintah mengembangkan kategori pahlawan nasional agar keinginan publik bisa terwujudkan. Selama ini pahlawan nasional didominasi oleh tokoh politik, padahal banyak tokoh dari bidang ilmu pengetahuan dan olahraga yang tidak mendapat gelar pahlawan. "Dalam hal ini tergantung pengembangan nilai apa yang ingin disosialisasikan dan presiden bisa membuat prioritas," lanjut Asvi. (*/OL-7)
Sumber: Media Indonesia, 4 Januari 2010.
Selengkapnya ..
"Itu Hak Prerogatif Presiden. Jika pemerintah ingin mengembangkan nilai demokrasi dan hak asasi manusia, maka Gus Dur harus diangkat." ujar Asvi Warman Adam, sejarahwan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Minggu (3/1).
Meskipun Gus Dur banyak menuai kontroversi akan tetapi selama tidak terdapat catatan kriminal minimal lima tahun, hal tersebut adalah wajar. "Pahlawan kan tidak ada yang sempurna, setiap manusia pasti ada cacatnya," ujarnya.
Asvi mengatakan, ada pun syarat seorang tokoh menjadi pahlawan nasional, yakni persyaratan umum dan khusus. Persyaratan umum antara lain warga negara Indonesia, tidak mempunyai catatan kriminal minimal lima tahun. Sedangkan persyararatan khusus mengikat antara lain berjasa terhadap bangsa dan negara.
Pengangkatan pun harus dilakukan secara sistematis dari tingkat kabupaten hingga presiden. Hal pertama yang harus dilakukan adalah pengajuan oleh bupati biasanya dari tempat tokoh tersebut lahir, lalu diberikan kepada Gubernur propinsi setempat lalu diajukan ke Departemen Sosial, lalu kepada Presiden dan melalui perundingan diputuskan oleh Presiden.
Namun ada kendala dalam pemberian gelar pahlawan dalam peraturan perundang undangan sekarang. Menurut Undang Undang 20/2009, Dewan Gelar Tanda Jasa dan Kehormatan harus dibentuk paling lambat enam bulan setelah Undang Undang tersebut disahkan yaitu pada tanggal 18 Desember.
Untuk mengatasi hal ini, ada proses yang harus dilaksanakan beriringan. Proses pengajuan dari bupati hingga kepada presiden dan proses pembentukan Dewan Gelar Tanda Kehormatan dan Jasa.
Lebih lanjut Asvi menganjurkan agar pemerintah mengembangkan kategori pahlawan nasional agar keinginan publik bisa terwujudkan. Selama ini pahlawan nasional didominasi oleh tokoh politik, padahal banyak tokoh dari bidang ilmu pengetahuan dan olahraga yang tidak mendapat gelar pahlawan. "Dalam hal ini tergantung pengembangan nilai apa yang ingin disosialisasikan dan presiden bisa membuat prioritas," lanjut Asvi. (*/OL-7)
Sumber: Media Indonesia, 4 Januari 2010.
Selengkapnya ..
Gus Dur dan Damai untuk Papua
B Josie Susilo Hardianto
Kebijaksanaan tidaklah diukur dari panjangnya usia....
Anton Sumer tercenung di depan televisi. Pemberitaan tentang wafatnya mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid menyita seluruh perhatiannya. ”Ai, aduh. Kami, orang Papua, layak bersedih. Beliau bapak kami orang Papua. Beliau pula yang mengembalikan lagi nama Papua,” kata Anton sambil memegang kepalanya.
Dulu, semasa Orde Baru, tabu jika orang Papua menyebut diri mereka sebagai orang Papua. Namun, oleh Gus Dur tembok-tembok ketakutan itu diruntuhkan. Dulu Papua disebut dengan Irian, demikian juga dengan penduduknya, orang Irian.
Dulu, meskipun secara politis mereka segan menyebut diri mereka dengan Papua karena takut diidentikkan dengan Organisasi Papua Merdeka, jauh di dalam hati mereka adalah orang Papua. ”Karena Gus Dur, kami tidak takut-takut lagi menyebut diri kami orang Papua, dan kami bangga dengan itu,” kata Yehezkiel Belaw, seorang pemuda asli Paniai.
Gus Dur pula yang pada 2000 sebagai Presiden mengizinkan masyarakat Papua menggelar kongres. Bahkan, memberi bantuan dana untuk menggelar Kongres Rakyat Papua II itu. Izin yang diberikan itu tidak saja amat berharga. Bagi masyarakat Papua, ruang demokrasi itu berdampak dahsyat, terutama terkait dengan identitas diri mereka.
Dalam pertemuan yang dihadiri lebih-kurang 5.000 peserta dari semua pelosok Papua, mereka dengan terbuka membicarakan lagi perlunya menuntaskan distorsi sejarah Papua. Mereka juga membahas pentingnya menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM di Papua serta pengabaian hak-hak dasar, terutama dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya rakyat Papua.
Mereka melihat bahwa dialog dan negosiasi adalah langkah penting untuk menyelesaikan tiga masalah tadi. Dalam kongres yang digelar di Jayapura itu juga ditetapkan berdirinya Presidium Dewan Papua yang diketuai oleh Theys Hiyo Eluay.
Secara politis, keinginan Gus Dur menjelang Tahun Baru 2001 sebagaimana diungkapkannya melalui kata-kata, ”Saya Ingin ke Papua untuk melihat matahari terbit dari timur” berdampak luar biasa bagi rakyat Papua.
Jati diri
Gus Dur pula yang dengan terbuka mengakui kembali masyarakat Papua sebagai bangsa. ”Ia tidak hanya membuka dan membangun ruang-ruang demokrasi, menghadirkan rasa aman dan nyaman, tetapi juga mengakui harkat dan martabat kami rakyat Papua,” kata Ketua Umum Dewan Adat Papua Forkorus Yaboisembut.
Meskipun dalam logika ketatanegaraan pengakuan atas bendera Bintang Kejora dan lagu ”Hai Tanahku Papua” sebagai salah satu simbol kepapuaan menurut Forkorus Yaboisembut sangat kontroversial, toh Gus Dur tetap merestuinya.
Pengakuan atas ekspresi kultural, kebebasan berpendapat, dan identitas politik itu tidak hanya penting bagi masyarakat Papua, tetapi juga menegaskan keberadaan masyarakat Papua yang harus diperlakukan setara.
”Dengan keberanian iman dan intelektualitasnya, ia membebaskan masyarakat Papua dari kekangan masa Orba yang otoriter militeristik,” kata Forkorus.
Sayang, menurut peneliti dari Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, Amiruddin al Rahab, apa yang telah dirintis Gus Dur tidak diteruskan.
Meskipun demikian, itu tidak mengurangi arti penting dari apa yang telah dirintis Gus Dur untuk Papua.
Bagi Ketua Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur, Abepura, Neles Tebay, sikap terbuka dan demokratis yang didukung oleh keberanian iman dan intelektualitas itulah yang menempatkan Gus Dur sebagai sang damai. ”Man of Peace,” kata Neles Tebay.
Tidak mengherankan jika kepergian Gus Dur menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Papua. Apalagi, mereka sebenarnya tengah mempersiapkan peringatan penetapan nama Papua dan hendak mengundang Gus Dur hadir.
Menurut Forkorus, Gus Dur telah mengilhami mereka untuk berjuang dalam dan demi perdamaian. Meski masa pemerintahannya sebagai presiden amat pendek, apa yang telah dilakukannya bagi masyarakat Papua sangat penting.
”Meski secara fisik, Gus Dur sulit melihat, ia memiliki mata hati yang mampu melihat jauh lebih dalam daripada mata fisik,” kata Anton Sumer.
Dalam keheningan misa sambut Tahun Baru di sebuah gereja kecil di wilayah perbatasan di Kabupaten Keerom, doa untuk Gus Dur membubung. ”Terima kasih Gus,” gumam seorang umat.
Sumber: Kompas, 4 Januari 2010
Selengkapnya ..
Kebijaksanaan tidaklah diukur dari panjangnya usia....
Anton Sumer tercenung di depan televisi. Pemberitaan tentang wafatnya mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid menyita seluruh perhatiannya. ”Ai, aduh. Kami, orang Papua, layak bersedih. Beliau bapak kami orang Papua. Beliau pula yang mengembalikan lagi nama Papua,” kata Anton sambil memegang kepalanya.
Dulu, semasa Orde Baru, tabu jika orang Papua menyebut diri mereka sebagai orang Papua. Namun, oleh Gus Dur tembok-tembok ketakutan itu diruntuhkan. Dulu Papua disebut dengan Irian, demikian juga dengan penduduknya, orang Irian.
Dulu, meskipun secara politis mereka segan menyebut diri mereka dengan Papua karena takut diidentikkan dengan Organisasi Papua Merdeka, jauh di dalam hati mereka adalah orang Papua. ”Karena Gus Dur, kami tidak takut-takut lagi menyebut diri kami orang Papua, dan kami bangga dengan itu,” kata Yehezkiel Belaw, seorang pemuda asli Paniai.
Gus Dur pula yang pada 2000 sebagai Presiden mengizinkan masyarakat Papua menggelar kongres. Bahkan, memberi bantuan dana untuk menggelar Kongres Rakyat Papua II itu. Izin yang diberikan itu tidak saja amat berharga. Bagi masyarakat Papua, ruang demokrasi itu berdampak dahsyat, terutama terkait dengan identitas diri mereka.
Dalam pertemuan yang dihadiri lebih-kurang 5.000 peserta dari semua pelosok Papua, mereka dengan terbuka membicarakan lagi perlunya menuntaskan distorsi sejarah Papua. Mereka juga membahas pentingnya menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM di Papua serta pengabaian hak-hak dasar, terutama dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya rakyat Papua.
Mereka melihat bahwa dialog dan negosiasi adalah langkah penting untuk menyelesaikan tiga masalah tadi. Dalam kongres yang digelar di Jayapura itu juga ditetapkan berdirinya Presidium Dewan Papua yang diketuai oleh Theys Hiyo Eluay.
Secara politis, keinginan Gus Dur menjelang Tahun Baru 2001 sebagaimana diungkapkannya melalui kata-kata, ”Saya Ingin ke Papua untuk melihat matahari terbit dari timur” berdampak luar biasa bagi rakyat Papua.
Jati diri
Gus Dur pula yang dengan terbuka mengakui kembali masyarakat Papua sebagai bangsa. ”Ia tidak hanya membuka dan membangun ruang-ruang demokrasi, menghadirkan rasa aman dan nyaman, tetapi juga mengakui harkat dan martabat kami rakyat Papua,” kata Ketua Umum Dewan Adat Papua Forkorus Yaboisembut.
Meskipun dalam logika ketatanegaraan pengakuan atas bendera Bintang Kejora dan lagu ”Hai Tanahku Papua” sebagai salah satu simbol kepapuaan menurut Forkorus Yaboisembut sangat kontroversial, toh Gus Dur tetap merestuinya.
Pengakuan atas ekspresi kultural, kebebasan berpendapat, dan identitas politik itu tidak hanya penting bagi masyarakat Papua, tetapi juga menegaskan keberadaan masyarakat Papua yang harus diperlakukan setara.
”Dengan keberanian iman dan intelektualitasnya, ia membebaskan masyarakat Papua dari kekangan masa Orba yang otoriter militeristik,” kata Forkorus.
Sayang, menurut peneliti dari Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, Amiruddin al Rahab, apa yang telah dirintis Gus Dur tidak diteruskan.
Meskipun demikian, itu tidak mengurangi arti penting dari apa yang telah dirintis Gus Dur untuk Papua.
Bagi Ketua Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur, Abepura, Neles Tebay, sikap terbuka dan demokratis yang didukung oleh keberanian iman dan intelektualitas itulah yang menempatkan Gus Dur sebagai sang damai. ”Man of Peace,” kata Neles Tebay.
Tidak mengherankan jika kepergian Gus Dur menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Papua. Apalagi, mereka sebenarnya tengah mempersiapkan peringatan penetapan nama Papua dan hendak mengundang Gus Dur hadir.
Menurut Forkorus, Gus Dur telah mengilhami mereka untuk berjuang dalam dan demi perdamaian. Meski masa pemerintahannya sebagai presiden amat pendek, apa yang telah dilakukannya bagi masyarakat Papua sangat penting.
”Meski secara fisik, Gus Dur sulit melihat, ia memiliki mata hati yang mampu melihat jauh lebih dalam daripada mata fisik,” kata Anton Sumer.
Dalam keheningan misa sambut Tahun Baru di sebuah gereja kecil di wilayah perbatasan di Kabupaten Keerom, doa untuk Gus Dur membubung. ”Terima kasih Gus,” gumam seorang umat.
Sumber: Kompas, 4 Januari 2010
Selengkapnya ..
Sunday, January 3, 2010
Gus Dur Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

K.H. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal Gus Dur, telah berpulang ke rahmatullah pada 30 Desember 2009. Kini setelah Gus Dur dimakamkan banyak kalangan di Tanah Air yang mengusulkannya agar segera ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia.
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPR menyadari bahwa desakan untuk menjadikan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai pahlawan nasional kian menguat, meluas dan merata di semua lapisan dan strata sosial. Sebagai langkah konkret, FPKB pada Senin (4/1/2010) akan mengirimkan surat permohonan kepada Presiden SBY.
"FPKB mengambil langkah konkret dengan mengirimkan surat resmi permohonan pengangkatan Gus Dur sebagai pahlawan kepada Presiden RI pada Senin (4/12/2010)," kata Ketua FPKB Marwan Ja'far kepada detikcom, Minggu (3/1/2010).
Bagi FPKB, Gus Dur sudah sangat memenuhi syarat, baik umum maupun khusus seperti yang diatur dalam pasal 24, 25 dan pasal 26 UU Nomor 20/2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
"FPKB juga mendorong kepada pimpinan DPR dan semua fraksi di DPR, maupun kepada semua pihak untuk melakukan langkah serupa, mengirimkan surat resmi kepada pemerintah yang mengusulkan Gus Dur diberi gelar sebagai pahlawan nasional," imbuh Marwan.
Hanya melalui mekanisme inilah, imbuh Marwan, presiden (pemerintah) akan cukup memiliki data dan alasan secara legal formal untuk segera memproses pemberian gelar pahlawan terhadap guru bangsa, KH Abdurrahman Wahid.
"FPKB mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mengusulkan Gus Dur sebagai pahlawan nasional. Juga kepada pemerintah yang telah merespons dengan baik tentang hal ini," pungkas Marwan.
Selengkapnya ..
Friday, January 1, 2010
Program Tukeran LINK 2010
Buat rekan-rekan blogger yang budiman mari kita saling bertukar link ok,dalam bertukar link saya tidak melihat PAGERANK ok, yang penting kita bisa berteman dan ber-LINK ria saya tunggu pendaftaran nya ya rekan-rekan blogger sekalian, terima kasih.
Selengkapnya ..
Thursday, December 31, 2009
Man Of The Year 2009 Mr. Anggodo Widjodjo

Rekan Blogger Indonesia ini dia MAN OF THE YEAR 2009 Versi HUKUM TATA NEGARA INDONESIA.
Ini dia transkip rekaman Anggodo Widjodjo yang diputar di Mahkamah Konstitusi pada 3 November 2009, dan coba kita telusuri nama yang lain yang cukup menarik untuk kita ketahui latar belakangnya:
Wisnu Subroto
Wisnu Subroto adalah mantan Jaksa Agung Muda Intelijen. Wisnu tidak hanya disebut-sebut dalam percakapan itu, tetapi juga menjadi seseorang yang amat sering bercakap-cakap dengan Anggodo.
Wisnu sendiri dalam sejumlah kesempatan tidak menyangkal hubungan teleponnya dengan Anggodo. Namun, Wisnu membantah bahwa percakapannya dengan Anggodo merupakan rekayasa mengkriminalisasi KPK
Wisnu sendiri dalam sejumlah kesempatan tidak menyangkal hubungan teleponnya dengan Anggodo. Namun, Wisnu membantah bahwa percakapannya dengan Anggodo merupakan rekayasa mengkriminalisasi KPK.
“Anggodo memang pernah menelepon saya. Ia curhat mengenai sikap Edi Sumarsono yang tidak mau mengakui pernah mengetahui adanya perintah dari Antasari (mantan Ketua KPK Antasari Azhar) untuk menyuap Chandra Hamzah,” ujar Wisnu Subroto beberapa waktu lalu (Persda Network, Senin, 26/10).
Percakapan Anggodo dan orang yang diduga Wisnu Subroto
Berikut salah satu bagian petikan transkrip pembicaraan antara Anggodo dan Wisnu Subroto pada 22 dan 23 Juli 2009.
Pembicaraan 22 Juli terjadi pukul 12.03 WIB.
“Nanti malam saya rencananya ngajak si Edi (Edi Sumarsono) sama Ari (Ari Muladi) ketemu Truno 3 (Kabareskrim Komjen Susno Duadji),” kata Anggodo kepada Wisnu.
Sehari kemudian giliran Wisnu menelepon Anggodo, sekitar pukul 12.15.
Wisnu : Bagaimana perkembangannya?
Anggodo : Ya, masih tetap nambahin BAP, ini saya masih di Mabes. Pokoknya berkasnya ini kelihatannya dimasukkan ke tempatnya Ritonga (saat itu Jaksa Agung Muda Pidana Umum, Abdul Hakim Ritonga, sekarang Wakil Jaksa Agung) minggu ini, terus balik ke sini, terus action.
Wisnu : RI-I (Presiden) belum.
Anggodo : Udah-udah, aku masih mencocokkan tanggal.
Sedang telepon yang membahas sikap Edi Sumarsono yang tidak mau mengakui bahwa ia mengetahui adanya perintah dari Antasari Azhar untuk memberi suap kepada Chandra Hamzah, berlangsung 29 Juli 2009, sekitar pukul 13.58.
Anggodo : Terus gimana Pak, mengenai Edi gimana, Pak.
Wisnu : Edi udah tak omongken Irwan apa. Ini bukan sono yang salah, kita-kita ini yang jadi salah.
Anggodo : Iya, padahal ia saksi kunci Chandra. Maksud saya Pak, dia kenalnya dari Bapak dan Pak Wisnu, nggak apa-apa kan Pak.
Wisnu : Nggak apa-apa, kalau dari Wisnu nggak apa-apalah.
Anggodo : Kalau kita ngikutin, kan berarti saya ngaku Irwan kan. Cuma kalau dia nutupin dia yang perintah. Perintahnya Antasari suruh ngaku ke Chandra (Chandra Hamzah) itu nggak ngaku. Terus siapa yang ngaku.
Wisnu : Ya you sama Ari.
Anggodo : Nggak bisa dong Pak, wong nggak ada konteksnya dengan Chandra.
Wisnu : Nggak, saya dengar dari Edi.
Anggodo : Iya dari Edi, emang perintahnya dia Pak. Lha Edi-nya nggak mau ngaku, gitu Pak, Dia (Edi) nggak kenal Chandra, saya ndak nyuruh ngasihin duit. Gimana bos?
Wisnu : Ya nggak apa-apa.
Pada 30 Juli 2009, Anggodo kembali menghubungi Wisnu.
Anggodo : Pak tadi jadi ketemu.
Wisnu : Udah, akhirnya Kosasih (pengacara) yang tahu persis teknis di sana. Suruh dikompromikan di sana. Kosasih juga sudah ketemu Pak Susno. Dia juga ketemu Pak Susno lagi dengan si Edi. Yang penting kalau dia tidak mengaku susah kita. Yang saya penting, dia menyatakan waktu itu supaya membayar Chandra atas perintah Antasari.
Anggodo : Nah itu. Wong waktu di malam si itu dipeluk anu tak nanya, kok situ bisa ngomong. Si Ari dipeluk karena teriak-teriak, dipeluk sama Chandra itu kejadian.
Wisnu : Bohong, nggak ada kejadian, kamuflase saja.
Sumber: Kompas
Selengkapnya ..
Sunday, December 27, 2009
Difference Between Peritoneal and Pleural Mesothelioma
Does a chill of fright hover on you when the very thought of Mesothelioma cancer comes to your mind? Mesothelioma is definitely a dangerous disease whose last word is death. It is quite obvious that you will be worried at the very thought of it.
Among the different types of Mesothelioma, the Pleural and the Peritoneal Mesothelioma hit the common list. Among them again the Pleural type of Mesothelioma cancer is the most widely spread. Around eighty percent patients suffering from Mesothelioma actually are patients of Pleural Mesothelioma.
It is nearly ten percent of the patient population coming under Peritoneal Mesothelioma. The risk factors in both these types of Mesothelioma re more or less the same. Till date no definite cure has been put forward by the Medical Science to heal these patients. There are treatments that can only be supportive for resistance.
Basic criteria of difference
Peritoneal Mesothelioma
Peritoneal Mesothelioma is related to the stomach or the abdomen. The passage of asbestos into the body is mainly through your nose by the process of inhalation. Thus the asbestos coming in contact with the peritoneum of the abdominal cavity is an indirect process. The asbestos gets deposited to this region from the lungs cavity is the lymph nodes. Even in this type of cancer, the patient's life is fully at risk. Tumors are also formed around the abdominal cavity. Both radiation therapy and chemotherapy help the patients to resist the sufferings to a certain level. All these patients also lose the last hope of life.
Pleural Mesothelioma
Pleural Mesothelioma is related to the pleura region of the body. Peritoneal Mesothelioma is associated with the peritoneum of the body. Let use define both the cases in simpler terms that would become easier for all of us to understand and correlate.
Pleura is that part of the body where the Mesothelium tissue form a borderline around the lungs. When asbestos dust or fibers come in contact with this part, the lining slowly gets disrupted and starts dividing abruptly in a number of cells. This is nothing but the breaking out of cancer in that region. Fluid is deposited in the lungs cavity that worsens the condition of the patient. Gradually the fluid deposits take the shape of tumors that can be removed through surgical method. But even the surgery can heal the patient for the time being though the cancer cells still remain in the body to cause further damage.
Selengkapnya ..
Among the different types of Mesothelioma, the Pleural and the Peritoneal Mesothelioma hit the common list. Among them again the Pleural type of Mesothelioma cancer is the most widely spread. Around eighty percent patients suffering from Mesothelioma actually are patients of Pleural Mesothelioma.
It is nearly ten percent of the patient population coming under Peritoneal Mesothelioma. The risk factors in both these types of Mesothelioma re more or less the same. Till date no definite cure has been put forward by the Medical Science to heal these patients. There are treatments that can only be supportive for resistance.
Basic criteria of difference
Peritoneal Mesothelioma
Peritoneal Mesothelioma is related to the stomach or the abdomen. The passage of asbestos into the body is mainly through your nose by the process of inhalation. Thus the asbestos coming in contact with the peritoneum of the abdominal cavity is an indirect process. The asbestos gets deposited to this region from the lungs cavity is the lymph nodes. Even in this type of cancer, the patient's life is fully at risk. Tumors are also formed around the abdominal cavity. Both radiation therapy and chemotherapy help the patients to resist the sufferings to a certain level. All these patients also lose the last hope of life.
Pleural Mesothelioma
Pleural Mesothelioma is related to the pleura region of the body. Peritoneal Mesothelioma is associated with the peritoneum of the body. Let use define both the cases in simpler terms that would become easier for all of us to understand and correlate.
Pleura is that part of the body where the Mesothelium tissue form a borderline around the lungs. When asbestos dust or fibers come in contact with this part, the lining slowly gets disrupted and starts dividing abruptly in a number of cells. This is nothing but the breaking out of cancer in that region. Fluid is deposited in the lungs cavity that worsens the condition of the patient. Gradually the fluid deposits take the shape of tumors that can be removed through surgical method. But even the surgery can heal the patient for the time being though the cancer cells still remain in the body to cause further damage.
Selengkapnya ..
Saturday, December 26, 2009
Around issues of Malignant Mesothelioma
Malignant mesothelioma is a cancer that starts in cells in the linings of certain parts of the body, especially the chest or abdomen.
A layer of specialized cells called mesothelial cells lines the inside of the chest, the abdomen, and the space around your heart. These cells also cover the outer surface of most of your internal organs. The lining formed by these cells is called mesothelium.
The mesothelium helps protect your organs by making a special lubricating fluid that allows organs to move around. For example, this fluid makes it easier for the lungs to move inside the chest during breathing. The mesothelium has different names in different parts of the body:
* In the chest it is called the pleura.
* In the abdomen it is called the peritoneum.
* In the space around the heart it is called the pericardium.
Tumors of the mesothelium can be non-cancerous (benign) or cancerous (malignant).
Malignant mesothelioma
A cancerous tumor of the mesothelium is called a malignant mesothelioma, although this is often simply shortened to just mesothelioma. Mesotheliomas can start in 4 main areas in the body.
* Pleural mesotheliomas start in the chest cavity. They account for about 3 out of 4 mesotheliomas.
* Peritoneal mesotheliomas begin in the abdomen. They make most of the remaining cases.
* Pericardial mesotheliomas start in the cavity around the heart and are very rare.
* Mesotheliomas of the tunica vaginalis are very rare tumors that start in the covering layer of the testicles, which is actually an outpouching of peritoneum into the scrotum.
Malignant mesotheliomas can also be classified into 3 types based on how the cells are arranged when looked at under a microscope:
* epithelioid: About 50% to 60% of mesotheliomas are of this type. It tends to have a better outlook (prognosis) than the other types.
* sarcomatoid (fibrous): About 10% to 20% of mesotheliomas are of this type.
* mixed (biphasic): These mesotheliomas have both epithelioid and sarcomatoid areas. They make up about 30% to 40% of mesotheliomas.
Benign tumors of the mesothelium
It is important not to confuse malignant mesothelioma with benign tumors that also start in the mesothelium.
Adenomatoid tumor: This benign tumor can develop in the mesothelium of certain female and male reproductive organs. In men, it often starts in the epididymis (a small collection of ducts that carry sperm cells out of the testicle). In women, this tumor may begin in the fallopian tubes (tubes that carry eggs from the ovaries to the uterus or womb).
Benign cystic mesothelioma: This is another non-cancerous tumor that may begin in mesothelium near female reproductive organs.
Solitary fibrous tumor of the pleura: This type of benign tumor can form in the pleura surrounding the lungs. It used to be called benign fibrous mesothelioma, but doctors now know that this tumor actually starts from tissue under the mesothelium and not from mesothelial cells. This disease is usually benign, but about 1 in 10 are cancerous. A similar disease starting in the peritoneum is called solitary fibrous tumor of the peritoneum.
These benign tumors are typically removed by surgery, and there is usually no need for additional treatment.
Only malignant mesothelioma will be discussed further in this document.
Selengkapnya ..
A layer of specialized cells called mesothelial cells lines the inside of the chest, the abdomen, and the space around your heart. These cells also cover the outer surface of most of your internal organs. The lining formed by these cells is called mesothelium.
The mesothelium helps protect your organs by making a special lubricating fluid that allows organs to move around. For example, this fluid makes it easier for the lungs to move inside the chest during breathing. The mesothelium has different names in different parts of the body:
* In the chest it is called the pleura.
* In the abdomen it is called the peritoneum.
* In the space around the heart it is called the pericardium.
Tumors of the mesothelium can be non-cancerous (benign) or cancerous (malignant).
Malignant mesothelioma
A cancerous tumor of the mesothelium is called a malignant mesothelioma, although this is often simply shortened to just mesothelioma. Mesotheliomas can start in 4 main areas in the body.
* Pleural mesotheliomas start in the chest cavity. They account for about 3 out of 4 mesotheliomas.
* Peritoneal mesotheliomas begin in the abdomen. They make most of the remaining cases.
* Pericardial mesotheliomas start in the cavity around the heart and are very rare.
* Mesotheliomas of the tunica vaginalis are very rare tumors that start in the covering layer of the testicles, which is actually an outpouching of peritoneum into the scrotum.
Malignant mesotheliomas can also be classified into 3 types based on how the cells are arranged when looked at under a microscope:
* epithelioid: About 50% to 60% of mesotheliomas are of this type. It tends to have a better outlook (prognosis) than the other types.
* sarcomatoid (fibrous): About 10% to 20% of mesotheliomas are of this type.
* mixed (biphasic): These mesotheliomas have both epithelioid and sarcomatoid areas. They make up about 30% to 40% of mesotheliomas.
Benign tumors of the mesothelium
It is important not to confuse malignant mesothelioma with benign tumors that also start in the mesothelium.
Adenomatoid tumor: This benign tumor can develop in the mesothelium of certain female and male reproductive organs. In men, it often starts in the epididymis (a small collection of ducts that carry sperm cells out of the testicle). In women, this tumor may begin in the fallopian tubes (tubes that carry eggs from the ovaries to the uterus or womb).
Benign cystic mesothelioma: This is another non-cancerous tumor that may begin in mesothelium near female reproductive organs.
Solitary fibrous tumor of the pleura: This type of benign tumor can form in the pleura surrounding the lungs. It used to be called benign fibrous mesothelioma, but doctors now know that this tumor actually starts from tissue under the mesothelium and not from mesothelial cells. This disease is usually benign, but about 1 in 10 are cancerous. A similar disease starting in the peritoneum is called solitary fibrous tumor of the peritoneum.
These benign tumors are typically removed by surgery, and there is usually no need for additional treatment.
Only malignant mesothelioma will be discussed further in this document.
Selengkapnya ..
If Want Great Focus
Writer: Jamil Azzaini
Media Sources: Antara, 18 Desember 2009.
If you want to be a master in a particular field remember these words: focus on one thing or skill with endless devotion to continue to improve, and we wanted to be the best.
Focus, relentless improvement and a strong desire to be the best is the main fuel to become a specialist. And most large majority of people coming from a specialist.
B.J. Habibie is a specialist in the field of aircraft. Is success purely a natural gift?. Of course the answer is no. He took what was given by nature to him and run this formula; focus plus ongoing continuous improvement and a strong desire to be the best.
Male birth-Pare Pare is not want to be the best in five different areas. For example, he did not want an expert on the train or four-wheel vehicles. Former President of the Republic of Indonesia is the third great just wanted to field the aircraft. And he succeeded.
Michael Jordan to focus on basketball. Cristiano Ronaldo focused on football. Muhammad Yunus focus on microfinance. Bill Gates focused on computer software evelopment, Dedi Mizwar focus on the film. Yusuf Mansur focus on the science of charity. Hermawan Kertajaya focus on marketing world. They and many others do not break the focus practiced. And they succeeded.
Edison patents registered 1093. He also discovered the light bulb to the phonograph. The man who once branded an idiot by his teacher is not trying to be big sellers, the famous poet, and renowned musicians. He only focuses on the findings. He also improve every day. And always encouraged to become a great inventor and benefiting the world.
Furthermore, he allowed time to create miracles. And it turned out, knocked on the door of success for people who are focused on the field. They are the specialists.
Perhaps you remember the story of Pablo Picasso. One day, a woman seen in the market and he took a piece of paper. "Mr Picasso, I'm a fan of you. Would you draw a little for me? ".
Picasso happily meet demand and carve a form of art on paper provided. Smiling, she returned the paper saying, "The value of this paper could be millions of dollars lho." She was confused and said, "But you master it only takes 30 seconds to produce this masterpiece." Laughing Picasso replied, "It took 30 in order to produce a masterpiece in 30 seconds. "
Know what your strengths. Discover your talents, and strive hard to polish your talents. Know what the best part of your life. You are very skilled and enjoying it. Even you sometimes anxious when you do not do that.
Perhaps you are a good communicator mix. Maybe you're an expert on smooth state. Maybe you're an innovator who could produce something new. Maybe you're a diligent business results despite a small but large volume. Or you're an expert adds value, so you can sell the same products but at a price much higher.
Discover your strengths, and develop. Focus on your strengths and constantly honed, doing continuous improvement, and Commit to be the best in your field. I am sure that no more than ten years from now you will be a great person in your field. Maybe people will talk or write about you.
Let's bet with me. If you've found your talents and devote time each day to hone that talent and continuously improve and Commit to be the best in that area, no more than 10 years to come you've become a great one.
When it bring a gift to me, because I have won this bet. If you fail, it's because you want to be good at all the things that break your focus. Finally, you did not get the whole thing.
Selengkapnya ..
Media Sources: Antara, 18 Desember 2009.
If you want to be a master in a particular field remember these words: focus on one thing or skill with endless devotion to continue to improve, and we wanted to be the best.
Focus, relentless improvement and a strong desire to be the best is the main fuel to become a specialist. And most large majority of people coming from a specialist.
B.J. Habibie is a specialist in the field of aircraft. Is success purely a natural gift?. Of course the answer is no. He took what was given by nature to him and run this formula; focus plus ongoing continuous improvement and a strong desire to be the best.
Male birth-Pare Pare is not want to be the best in five different areas. For example, he did not want an expert on the train or four-wheel vehicles. Former President of the Republic of Indonesia is the third great just wanted to field the aircraft. And he succeeded.
Michael Jordan to focus on basketball. Cristiano Ronaldo focused on football. Muhammad Yunus focus on microfinance. Bill Gates focused on computer software evelopment, Dedi Mizwar focus on the film. Yusuf Mansur focus on the science of charity. Hermawan Kertajaya focus on marketing world. They and many others do not break the focus practiced. And they succeeded.
Edison patents registered 1093. He also discovered the light bulb to the phonograph. The man who once branded an idiot by his teacher is not trying to be big sellers, the famous poet, and renowned musicians. He only focuses on the findings. He also improve every day. And always encouraged to become a great inventor and benefiting the world.
Furthermore, he allowed time to create miracles. And it turned out, knocked on the door of success for people who are focused on the field. They are the specialists.
Perhaps you remember the story of Pablo Picasso. One day, a woman seen in the market and he took a piece of paper. "Mr Picasso, I'm a fan of you. Would you draw a little for me? ".
Picasso happily meet demand and carve a form of art on paper provided. Smiling, she returned the paper saying, "The value of this paper could be millions of dollars lho." She was confused and said, "But you master it only takes 30 seconds to produce this masterpiece." Laughing Picasso replied, "It took 30 in order to produce a masterpiece in 30 seconds. "
Know what your strengths. Discover your talents, and strive hard to polish your talents. Know what the best part of your life. You are very skilled and enjoying it. Even you sometimes anxious when you do not do that.
Perhaps you are a good communicator mix. Maybe you're an expert on smooth state. Maybe you're an innovator who could produce something new. Maybe you're a diligent business results despite a small but large volume. Or you're an expert adds value, so you can sell the same products but at a price much higher.
Discover your strengths, and develop. Focus on your strengths and constantly honed, doing continuous improvement, and Commit to be the best in your field. I am sure that no more than ten years from now you will be a great person in your field. Maybe people will talk or write about you.
Let's bet with me. If you've found your talents and devote time each day to hone that talent and continuously improve and Commit to be the best in that area, no more than 10 years to come you've become a great one.
When it bring a gift to me, because I have won this bet. If you fail, it's because you want to be good at all the things that break your focus. Finally, you did not get the whole thing.
Selengkapnya ..
Subscribe to:
Posts (Atom)






























